I Hate Lovinf You[Chapter 4]

Author: Yessyka Widy

Requested by: SucciAssri Hyera Orchyd Wullanddarri

 
Casts:

-          Choi Sanghee

-          Jung Yunho

-          Lee Kiseop

-          Kim Jaejoong



------------------------------------------------------------









Chapter 4

*Review of Chapter 3*

“Oppa, aku akan mencintaimu. Seiring berjalannya waktu, aku dapat mencintaimu, beri aku kepercayaan.” Kata Sanghee berjalan mendekati Kiseop dan memeluknya, membenamkan kepalanya di bahu Kiseop.

“Ne~” pikiran Kiseop pun melayang, jauh di lubuk hatinya ia sangat suka dengan usaha Sanghee, namun dia bukanlah orang yang tamak yang memaksakan kehendaknya. Ia tahu Sanghee sedang dalam keadaan gundah.

“Aku akan membuatmu bahagia.” sambung Kiseop mengelus rambut Sanghee, ‘Meski aku harus rela melepasmu dan melukai diriku sendiri.’ Lanjutnya dalam hati.

*End Of Review*

Mereka semua masih berlibur di Gwangju untuk beberapa hari ke depan, hal itu membuat Yunho senang, bisa dipastikan ia tak akan menderita mengangkut puluhan keranjang ataupun karung beras, karena ia mempunyai alas an untuk menjamu tamunya.

“Ya Hyung, apa yang kau lakukan disana?” Tanya Changmin datang menghampirinya.

“Anni.. aku hanya mencari udara segar.” Jawab Yunho sekenanya.

“Disana?” Changmin terbelalak, malam sudah semakin larut dan ia mendapati Yunho duduk terbengong di atas genting rumah neneknya itu. “Apa tak ada tempat lain?”

“Aish, kau tidur saja Changminnie.” Pekiknya geram dengan sikap Changmin yang sedikit menganggunya.

Changmin melangkah pergi dan masuk ke kamarnya.

Dedaunan mulai bersemi dan udara segar akan wewangian bunga yang bermekaran menyejukkan hati.

“Jaejoongie~! Apa yang sedang kau buat?” Tanya Yunho muncul dari pintu dapur.

“Tidakkah kau lihat aku sedang membuat kimchi.” Dengus Jaejoong tanpa sebab. Sejak tadi pagi suasana hatinya sedang tidak baik.

“Yah, kau ini kenapa? Kau sakit?” Tanya Yunho meletakkan punggung tangannya di dahi Jaejoong, dan saat itu Sanghee masuk.

”Oh, mianhada. Aku hanya ingin mengambil air minum, kalian lanjutkan saja.” Ujarnya merasa canggung melihat adegan itu. Sanghee segera mengambil air dari lemari pendingin dan bergegas keluar, ia sudah tak merasa haus lagi.

Jaejoong yang melihatnya menyeringai. Sanghee menepati rencana mereka.

Dan sementara itu Yunho hanya diam terpaku menatap Sanghee, ia tak tahu harus melakukan apa. Perasaannya sedikit kalut saat menyadari Sanghee melihat ia dan Jaejoong. ‘Tak sepantasnya aku merasakan ini. Ini tak boleh terjadi.’ Batinnya berusaha mengusir jauh-jauh apapun yang ia rasakan terhadap gadis itu.

Sanghee mendekap tangannya di dada, ia atur napasnya yang mendadak mulai bergemuruh. Ia tak tahu bagaimana caranya mengatasi perasaannya yang perlahan mulai menyukai laki-laki itu. Ini berbeda dengan rencananya sejak semula. Ia ingin balas dendam atas kecelakaan yang diterima kakak laki-lakinya.



*Flashback*

Malam semakin larut, namun jalanan Seoul tak pernah lengang. Sebuah sepeda motor tiba-tiba melesat di depan mobil yang dikendarai oleh pria seorang pria bernama Choi Siwon, motor itu seolah tak dapat dikendalikan melesat ke kanan lalu ke kiri, tanpa henti. Choi Siwon berusaha mengendalikan pedal mobilnya. Sepertinya tak ada gunanya ia menghentikan sepeda motor itu, karena pengendaranya tampak sedang mabuk.

Choi Siwon memperlambat jalan mobilnya tetap berada di belakang motor itu, namun tanpa ia duga dan ia sedang lengah setelah lelah dengan kegiatan di universitasnya. Pengendara motor itu mengerem mendadak hingga suara decitan ban yang bergesekan dengan aspal jalan terdengar sejauh 50 meter.

Dengan kepanikan yang menyelimuti pikirannya, Siwon membanting setir dan tanpa ia sadari mobilnya berhadapan dengan pembatas jalan berupa pagar yang langsung ditabraknya hingga mobil itu terpelanting ke sungai dan sejak detik itu Siwon masih dalam keadaan mayat hidup, napasnya disambung dengan masker oksigen, selang inpuspun tak pernah jengah terpasang di tangannya. Ia terbaring koma di kamar rumah sakit selama hampir 3 tahun. Bahkan dokter pernah mengatakan bahwa mungkin hanya keajaiban dari Tuhan lah yang dapat membangunkan Siwon dari tidurnya. Namun keluarganya tak akan melepaskannya pergi. Karena mereka percaya bahwa suatu hari nanti Siwon akan bangun.

Setelah polisi menyelidiki siapa pengendara motor itu dengan bantuan beberapa saksi dan kamera CCTV di jalan mereka dapat mengetahui siapa dia, Jung Yunho, anak dari pengusaha kaya di Seoul yang ternyata memang malam itu sedang mabuk.

*End of Flashback*



Sejak saat itulah Sanghee mengetahui Yunho, ia belum rela melepaskan Yunho, Yunho harus membayar apa yang telah ia perbuatnya. Entah memang sudah Tuhan rencanakan atau hanya kebetulan hingga mereka belajar di universitas yang sama. Dari situlah Sanghee berniat untuk membalas dendam, dengan membuat Yunho merasakan penderitaan yang sebenarnya masih belum setimpal dengan yang Yunho lakukan pada kakaknya, Siwon.

Tapi kini rencananya seolah berjalan berlawanan arah dengan keinginannya, Yunho tak jera, ia masih tampak angkuh dan tak peduli dengan fitnah yang ia buat, dan gagalnya ia mulai menyukai pria itu. Pria yang seharusnya ia benci selama hidupnya.

Dan ia melakukan sesuatu untuk kebaikan Yunho. Bukankah itu sebelumnya adalah hal terlarang baginya?

‘Oppa, mianhada.’ Batinnya menghela napas.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



“Annyeonghaseyo, ahjussi.” Sapa Sanghee membungkuk di ruangan Tuan Jung, ayah Jung Yunho.

“Annyeonghaseyo. Ada yang bisa dibantu?” Tanya Tuan Jung bingung. Seingatnya ia tak memiliki janji dengan siapapun siang itu, namun ada mahasiswanya yang datang menemuinya.

“Tuan Jung, mengenai isu tentang Yunho-ssi, tentang gay itu. Aku meminta maaf padamu. Aku.. hanya saja saat itu aku sedang marah dan lantas aku mengatakan hal itu.” Terang Sanghee menghela napas.

“Apa kau kekasihnya?” terka Tuan Jung.

Sanghee memejamkan matanya beberapa detik. Tanpa usaha keras ia akan berhasil melakukannya.

“Uhm.. ne..”

Percakapan itupun terus berlanjut, seperti kata pepatah, kebohongan tak akan dilakukan sekali, tapi berkali-kali, kau akan melakukan berbohong demi untuk menutupi kebohonganmu sebelumnya. Dan itulah yang sedang dilakukan Sanghee sekarang.

Ia terus mengatakan apapun yang ada di otaknya sekarang, demi kebaikan Yunho. Begitulah penuturan Jaejoong. Ya, inilah rencananya dengan Jaejoong. Berpura-pura menjadi kekasih Yunho agar isu itu tak berkembang lagi dan untuk menutupi hubungan Yunho dan Jaejoong. Begitulah kata Jaejoong padanya, dan ia percaya. Jaejoong pun mengatakan bahwa Yunho juga mengetahui rencana ini.

‘Semoga kali ini aku tak salah melangkah lagi.’ Pikirnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Sudah 1 bulan berlalu, seperti tak ada perubahan dengan bulan –bulan sebelumnya, tak ada kabar tentang hubungan sejak 1 bulan Sanghee mengatakan akan berusaha mencintai Kiseop. Seolah seperti hanya hubungan kaka-adik seperti dulu. Sedikit perasaan bersalah pada Sanghee pada Kiseop, namun sejak awal Kiseop memang tak berusaha menaruh harapan besar atas perasaannya pada Sanghee, karena ia tahu sangat sulit mengubah perasaan seseorang saat seseorang itu sedang menyukai orang lain.

Ia akan terus menjadi orang yang akan melindungi Sanghee, sebesar itulah pengorbanannya pada orang yang dicintainya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



“ya Jung Yunho! Kau tak perlu berpura-pura lagi. Sekarang kemasi barang-barangmu dan kembalilah ke Seoul.” Kata ayah Yunho terbahak dan segera menutup telponnya sebelu anaknya menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Ya appa! Appa? Aish” umpat Yunho tak mengeri apa yang sebenarnya terjadi.

Ia bingung dengan perintah ayahnya yang begitu mendadak itu meski memang ia sangat senang akan kembali lagi ke Seoul dan kembali hidup seperti sebelumnya.

Sejak pertemuan Sanghee dan ayah Yunho itu, suasana menegang antara para pemilik nama berpengaruh di universitas itu mulai mengendur. Tak ada lagi kata meremehkan atau mencurigai, semuany sudah tampak jelas bahwa fitnah itu tidak benar. Hingga mereka semua pun sudah tak segan untuk menghormati Tuan Jung lagi.

Dan anehnya, Tuan Jung kini tak tampak sangat mengerikan, ia suka memperlihatkan senyumnya dan tawanya. Bahkan Yunho pun dibuat bingung oleh perubahan mendadaknya itu.

“Appa, apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Yunho.

“Apa maksudmu?”

“Tiba-tiba saja appa menyuruhku pulang dan beberapa hari ini tampak sangat senang.”

“Ah, kau tak mau mengakuinya huh? Apa kau ingin menyembunyikan itu dari appa selamanya?”

Yunho semakin mengerutkan dahinya. Semakin lama ayahnya semakin tampak aneh. Dan ia tak berpikir bahwa ia melakukan kesalahan lagi, ya selain fitnah gay itu ia tak melakukan apapun yang merugikan ayahnya.

“Bagaimana hubunganmu dengan Sanghee? Appa tak pernah melihatmu dengannya. Kalian baik-baik saja bukan?”

“Hubungan apa?”

“Kalian sedang berpacaran bukan? Aigo~ Yunho jangan berpura-pura tak tahu lagi. Sanghee sudah menceritakan fitnah gay itu, dan dia mengatakan kalau kau adalah kekasihnya. Awalnya appa ingin marah padanya, tapi entah kenapa appa menyukai gadis itu, appa merasa dia seperti anak appa sendiri. Appa mengerti mungkin dia melakukannya saat kalian sedang bertengkar.”

Yunho hanya membelalakkan matanya.

 Cerita macam apa lagi ini. Isu gay itu saja belum ia pahami, kini muncul masalah lagi, dan semuanya bersumber pada orang yang sama,Sanghee.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Jaejoong menjelaskan pada Yunho bahwa Sanghee melakukan hal itu untuk menyelesaikan masalah yang diperbuat gadis itu sendiri. Hanya itulah yang dipikirkan Sanghee untuk menolongnya dari fitnah-fitnah yang lain. Seperti itulah yang dikatakan Sanghee. Apakah kalian tak merasakan ada kejanggalan pada Jaejoong?

Dan Jaejoong memintanya untuk turut bermain dalam permainan itu, Yunho harus berperan sebagai kekasih Sanghee di hadapan ayahnya.

Dan itu bukanlah yang yang diinginkan Yunho, tapi juga bukan hal yang ingin ditolaknya. Jauh di dalam hatinya ia ingin menjadi kekasih Sanghee, bukan hanya dalam permainan tapi dalam kenyataan, namun ia sadar bahwa Sanghee adalah milik Kiseop. Seperti itulah kenyataan yang ia ketahui.

“Jajeoong, entah apa yang akan terjadi setelah ini, tapi terima kasih teman.” Kata Yunho merangkul bahu Jaejoong, dan Jaejoong pun hanya tersenyum. Rencananya berjalan setengah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Oppa, maukah kau pergi denganku?” Pinta Sanghee merajuk.

“Apa harus aku ikut? Bukankah itu acaramu dengan Yunho-ssi?”

“Tapi Yunho dengan Jaejoong-ssi. Oppa, kumohon.”

“Aish, arrasseo.” Jawab Kiseop mengeluh. Ia tahu tak seharusnya ia berada di posisi itu. Dan benarkah Yunho gay seperti yang dikatakan Sanghee? Pertanyaan itupun terus berputar di otaknya.

Mereka berempat pergi ke taman hiburan.

Dari sisi pemikiran Sanghee, ia mengatakan pada Ayah Yunho mereka akan pergi kencan, dan memberikan ruang untuk Yunho dan Jaejoong pergi bersama, hingga ia mengajak Kiseop, ‘kekasih’nya.

Dari sisi pemikiran Yunho, ia senang bisa pergi dengan Sanghee meski ada halangan yaitu Kiseop.

Dari sisi pemikiran Jaejoong, ia menyeringai, rencananya benar-benar berjalan  mulus. Ia berhasil mencari alasan untuk membuat Yunho dan Sanghee dapat bertemu. Dan dia berhasil mengajak Kiseop ke tempat yang berbeda dari Sanghee dan Yunho. Dengan alasan bahwa ia tak ingin hubungan palsu itu terbongkar. Dan tahukah kalian apa yang sebenarnya yang ada di pikiran Jaejoong? Jaejoong ingin membuat Yunho dan Sanghee menyadari perasaan mereka satu sama lain, bahwa mereka saling mencintai. Dan dia memanfaatkan fitnah gay itu untuk mendekatkan mereka berdua, membuat mereka berpura-pura menjadi sepasangan kekasih, karena pada kenyataannya Yunho dan dia bukanlah gay.

Dari sisi pemikiran Kiseop, ia bukanlah sepenuhnya pria bodoh yang tak mengerti apa maksud dari semua itu, ia menyadari bahwa Jaejoong selalu mengajaknya pergi menjauh untuk mendekatkan Sanghee dan Yunho dengan menyingkirkannya secara baik-baik. Bukan kata ‘menyingkirkan’ untuk menggambarkan perbuatan itu karena memang pada awalnya tempat itu bukan miliknya, tapi milik Yunho sepenuhnya sejak awal. Hanya bodohnya Sanghee yang tak bisa menyadari, tak bisa mengetahui apa yang ia rasakan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Sanghee pun mulai terbiasa dengan keberadaan Yunho bahkan ia mulai terbiasa tanpa Kiseop disisinya.

Hingga suatu hari saat Yunho ingin berkunjung ke rumahnya dengan alasan mengantarnya pulang. Sanghee benar-benar menolaknya, ia tak ingin orang tuanya melihat Yunho disana. Ia tak ingin memperumit suasana, dan dalam hatinya ia ingin melindungi Yunho. Sungguh, berbeda dengan rencananya semula.

“Sanghee-ssi, apa orang tuamu tak suka kedatangan tamu pria?” tanya Yunho penasaran.

“Anni, bukan begitu Yunho-ssi. Hanya saja saat ini ada acara keluarga di rumah.”

Yunho hanya meng-O dan mengangguk mengerti.

“Gwenchanayo?” Tanya Sanghee merasa tak enak hati.

“Gwenchana..” jawab Yunho tersenyum, sebenarnya ia ingin mengenal lebih jauh Sanghee, mengenal keluarganya juga. Namun mungkin itu terlalu cepat.

Sanghee menatap langit-langit kamarnya, tiba-tiba air matanya menetes, ia merasa bersalah setelah menjenguk kakak laki-lakinya, Siwon, keadaannya masih sama, tetap terbaring koma. Dan ia semakin merasa bersalah karena ia menyukai orang yang menyebabkan kakaknya itu dalam keadaan seperti itu.

Tidak bisakah semuanya berakhir bahagia? Ia ingin kakaknya terbangun lagi, namun ia juga tak bisa melanjutkan perasaannya seperti ini.

“Yoboseyo..”

“………….”

“Oh, ahjussi. Ada apa?”

“………….”



“Apa? Tapi…”

“………….”

“Ah, ye~ baiklah..”

Sanghee mendengus pelan, ayah Yunho baru saja mengabarinya bahwa Yunho sedang demam, dan terus mengigau memanggil namanya. Ayahnya memintanya untuk ke rumahnya.

“Yoboseyo, Jaejoong-ssi, Yunho-ssi sedang sakit. Sebaiknya kau yang datang kesana.”

“………….”

 “Tapi aku bukan siapa-siapa dia. Bukankah kau..”

“………….”

“Huft.. baiklah, aku akan kesana.”

Sia-sia saja ia menghubungi Jaejoong, Jaejoong beralibi sedang berada di Cheongnam mengunjungi orang tuanya.

Pelayan rumah Yunho mempersilahkannya masuk, mereka sudah mengenalinya, karena Yunho sering mengajaknya kesana.

Perlahan ia memasuki kamar Yunho, ini kali pertama ia masuk kesana, aroma parfum pria yang khas menusuk indra penciumannya. Ruangan itu tampak rapi, pasti sudha dirapikan oleh pelayan dan bukan Yunho.

Sanghee mendapati sesosok pria yang sangat ia kenali itu terbaring di kasur. Dan sebuah kain tertempel di dahinya. Keringat dingin pun tampak meluncur mulus dari keningnya. Wajahnya memucat, baru kali ini ia mendapati Yunho dalam keadaan lemah, bukan dalam keadaan Yunho yang angkuh dan sombong. Hingga pikirannya pun tertuju pada kakaknya yang terbaring lemah. Perasaan takut akan kehilangan seseorang menyelimutinya lagi, bibirnya bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.

“Yunho-ssi.” Gumamnya masih mematung di samping kasur itu.

Perlahan mata pria itu terbuka mendengar ada suara lembut yang memanggilnya.

“Sanghee.”

“Yunho-ssi, kau baik-baik saja?” tanpa bertanya pun ia tahu Yunho tidak dalam keadaan baik.

Yunho pun hanya mengangguk. Sanghee tak tahu harus melakukan apa.

“Uhm, kau sudah makan? Akan aku buatkan bubur.” Kata Sanghee langsung berlari keluar kamar, dan di depan kamar itu air matanya benar-benar menetes. Ia sudah kalah melawan perasaannya, ia tak dapat mengendalikannya lagi.

Selang beberapa menit Sanghee datang dengan membawa semangkuk bubur yang baru saja ia buat di dapur.

“Mungkin ini tak seenak buatan Jaejoong-ssi, tapi rasanya tak buruk.” Yunho terkikik, ‘Kenapa juga nama Jaejoong dibawa-bawa?’ batinnya.

Sanghee menyuapi Yunho dengan sabar, meski ia harus bertarung dengan detak jantungnya yang mulai berpacu cepat. Pelayan dan ayah Yunho tersenyum melihat adegan itu. Anaknya telah menemukan gadis yang tepat, pikirnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Sejak saat itu Sanghee dan Yunho semakin dekat saja, dan bagi kalian yang heran bagaimana dengan Kiseop, ya, Kiseop meminta Sanghee untuk mengakhiri hubungan mereka. Ia memberikan kebebasan untuk Sanghee, meski pada awalnya Sanghee menolak, ia meminta Kiseop memberikan kesempatan kedua, namun Kiseop menolaknya karena itu tak akan ada gunanya. Sanghee harus memahami apa yang ia rasakan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Sepulang perkuliahan, Sanghee menunggu Yunho di ruang latihan karena mereka sudah membuat rencana akan pergi bersama, di akhir pekan, makan bersama, menonton film, taman hiburan, sangat jelas Yunho mengajaknya pergi kencan. Seolah mereka benar-benar pasangan kekasih.

“Changmin, Yoochun, Junsu, Jaejoong, aku pergi dulu.” Pamit Yunho seraya meraih tas dan jaketnya di sofa.

Saat Sanghee melihat Jaejoong ia jadi merasa tidak enak. Dan Jaejoong menyadarinya, “Sudahlah, tak apa.” kata Jaejoong tersenyum. Sanghee menganggapnya bahwa Jaejoong ‘meminjamkan’ kekasihnya padanya.

Yunho dan Sanghee tampak sangat menikmati ‘kencan’ mereka.

Saat mereka sedang berjalan mengelilingi taman hiburan, mereka melihat kembang api yang sedang mencuat dan meledak di langit membentuk gambar hati.

Hati mereka pun terasa hangat.

“Sepertinya ada yang sedang mengungkapkan perasaannya.” Celoteh Sanghee tertawa, membunuh suasana kecanggungan itu.

“Ah, ye~”

“Sanghee, berbicara tentang perasaan, sebenarnya.. Choi Sanghee, aku mencintaimu, sejak pertama kali aku melihatmu di ruang latihan dengan Kiseop-ssi untuk memotret kami, aku mulai menyukaimu. Tapi saat itu tatapanmu seolah mengatakan kau sangat membenciku. Sanghee-ah, aku mencintaimu, maukah kau menjadi kekasihku, nyata?” Yunho mengenggam tangannya erat-erat, butuh puluhan kali untuk memberanikan dirinya mengungkapkan perasaannya itu, dan inilah yang waktu yang tepat.

Sanghee terperangah kaget, bibirnya kelu, ia tak tahu harus mengatakan apa, ia senang, namun ia juga sedih. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Semuanya semakin rumit.

“Yunho-ssi, kau jangan bercanda denganku.”

“Apa maksudmu? Aku sangat serius, aku menyukaimu.”

“Tapi Jaejoong-ssi, apa kau akan mengkhianatinya?”

“Mengkhianati bagaimana maksudmu?”

“Bukankah kalian…”

“Maksudmu gay? Sanghee, selama ini kau berpikir seperti itu? Fitnah itu tidak hanya terlontar begitu saja tapi memang karena kau berpikir seperti itu?”

“Tapi Jaejoong-ssi berkata bahwa kalian sedang menjalin hubungan.”

“APA? Jaejoong.. Ya Tuhan, itu tidak benar. Mungkin Jaejoong memiliki maksud tertentu mengatakan hal seperti itu, mungkin saja karena ia ingin mendekatkan kita. Sanghee, aku normal dan aku mencintaimu.” Yunho berusaha meyakinkan Sanghee, ia tak mau kehilangannya.

Seandainya saja Sanghee dapat mengatakan ‘aku mencintaimu juga.’ Tapi kata-kata itu benar-benar dikulumnya, ia masih ragu.

Di saat yang tidak tepat ponselnya berbunyi, dari ibunya.

“Yoboseyo, ye, eomma. Ada apa?”

“………….”

“APA? Aku akan segera kesana.” Sanghee tampak panik, pikirannya kacau, baru saja Yunho menyatakan perasaannya dan kini ibunya memberitahukan bahwa kakaknya sedang kritis.

“Sanghee, ada apa?” Tanya Yunho memegang kedua pipi Sanghee.

“Kakakku kritis. Aku harus ke rumah sakit.” Kata Sanghee dengan tatapan kosong dan mulai berair.

“Aku akan mengantarmu.”

“Tidak, tidak bisa. Kau tidak boleh kesana.”

“Wae? Aku akan mengantarmu.”

“TIDAK! KAU TIDAK BOLEH KESANA!” teriak Sanghee semakiin panik.

Yunho pun kaget melihat perubahan Sanghee, jiak ia menggunakan amarahnya tak aka nada gunanya.

“Sanghee, aku akan mengantarmu kesana, aku tak bisa membiarkanmu di jalan sendiri di malam seperti ini.” Tutur Yunho dengan nada halus dan membuat Sanghee meluruh.

“Tapi hanya sampai di depan, kau tidak boleh masuk.”

“Baiklah.”

Jauh di dalam diri Yunho ada rasa ingin tahu yang besar mengapa Sanghee bersikeras melarangnya ikut masuk, padahal ia ingin mengenal keluarganya. Namun ia mengiyakan permintaannya.

Di perjalanan Sanghee terus menangis, hingga membuat Yunho semakin bingung mnenenangkannya. Dan di depan rumah sakit Sanghee langsung melesat masuk, meninggalkan Yunho mematung di kemudi mobilnya.

“Maafkan aku, Sanghee.” Katanya seraya masuk mengikuti Sanghee dari belakang.

Ia sangat penasaran mengapa Sanghee begitu tertutup mengenai keluarganya.

Dan matanya terbelalak ketika melihat sepasang suami istri yang memeluk Sanghee, orangtua Sanghee, yang sangat ia kenal, yang masih belum hilang di dalan ingatannya.

“Bagaimana keadaan Siwon, suster?”

Dugaan Yunho benar, pria bernama Siwon itu, seorang korban karena kelalaiannya. Dengan kedua orangtuanya yang pernha ia temui.

“Ia masih dalam keadaan kritis, kami akan berusaha keras. Berdoalah kepada Tuhan.”

Dan yang tak diketahui Yunho bahwa Sanghee adalah adik Siwon. Pikirannya pun kalut, baru saja ia bisa mengatasi rasa ketakutan dan rasa bersalah setelah insiden kecelakaan itu, kini ia bertemu lagi dengan orang yang sama, dan satu orang lagi yang sangat ia cintai yang merupakan keluarganya.

Inikah alasan Sanghee menolak saat Yunho ingin bertemu dengan keluarganya?

Apakah karena Sanghee sudah tahu siapa Yunho?

Dan apakah semua ini, termasuk fitnah gay itu adalah balas dendam Sanghee padanya?

-To Be Continued-

March 18th, 2012

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Annyeong, chapter 4 rilis.. ^^mianhae ya,, si author bego ini *nunjuk diri* manjangin alurnya.. tp masih terkesan terlalu cepat dah alurnya.. what do  you think guys? I need your comment.. ^^

Succi saeng,  see! Udah aku post ini chapter 4.. entahlah bagus apa gak,,keke~

Mohon maaf kalo ada yg salah ketik atau gimana, without editing!! RCL ya chingudeul~ LOVE YA!!>

I Hate Loving You Chapter 3

Title: I Hate Loving You





Author: Yessyka WIdy
Requested by: SucciAssri Hyera Orchyd Wullanddarri

Casts:
-          Choi Sanghee
-          Jung Yunho
-          Lee Kiseop
-          Kim Jaejoong

------------------------------------------------------------


 “Review of Chapter 2*
“Yunho-ssi, kenapa kau mengajakku berlari? Bukankah beliau ayahmu?” Tanya Sanghee terengah-engah mengikuti langkah Yunho yang lebih panjang darinya.
“Sudahlah, kita harus menghindarinya.” Jawab Yunho sekenanya, ia terus berlari tak tentu arah, kalau sampai ayahnya menangkapnya, hukuman pun akan semakin berat ia terima.
Entah apa yang membuat Sanghee terus berlari dengannya tanpa protes ia mengikutinya, sebuah senyuman terlukis di wajahnya.
Baru kali ini ia merasa jantungnya semakin terpacu kencang, aliran darahnya pun terasa memanas. Langkah larinya pun semakin kencang tanpa merasa lelah, dan meski salju tengah turun perlahan, menciptakan cuaca yang begitu dingin, ia merasa tangan kanannya semakin menghangat, terasa nyaman dalam genggaman tangan pria itu.
“End of Review*
Chapter 3
Yunho menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah gang kecil menuju rumah Sanghee.
“Pulanglah.” Katanya dingin, perlahan melepaskan genggaman tangannya dari Sanghee.
Sanghee hanya terdiam, tangan yang awalnya terasa hangat perlahan kini mulai terasa membeku dingin lagi. Dan ia tersadar genggaman tangan itu telah terlepas.
“Yunho-ssi..” panggil Sanghee ragu, suaranya terasa tertelan, dan Yunho membalikkan badannya menghadap Sanghee, “Yunho-ssi, maafkan aku..”
Yunho terdiam, tanpa berkata apapun ia berjalan menjauhi Sanghee. Sanghee menghela napas panjang. Ia tahu meminta maaf atas perbuatannya bukanlah hal yang mudah. Ia harus melakukan sesuatu, ia harus meluruskan semua permasalahan ini.
“Mianhada..” gumamnya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Yunho tertunduk lesu, sudah hampir setengah ayahnya menceramahinya. Tak ada gunanya ia menjawab ataupun membela diri, karena pada akhirnya semuanya akan sia-sia saja.
Dan Yunho sedikitpun tak merasa bersalah kepada ayahnya, ia juga tak berniat untuk meminta maaf, ini bukan salahnya, ia pikir.
“Kemasi barang-barangmu. Kau akan kukirim ke Gwangju!” tegas ayah Yunho, beliau sudah tak mampu menolerir perbuatan anaknya lagi.
“Tapi appa..”
“Tak ada tapi-tapian. Kau harus pergi ke Gwangju. Lakukan apa yang diminta nenekmu, dan renungkan semua permasalahan yang telah kau perbuat.”
“Appa.. kuliahku..”
“CEPAT!”
Yunho mendengus, baru kali ini ayahnya begitu marah padanya, ia tak pernah diusir dari rumah secara halus sebelumnya.
Yunho terduduk letih di ranjang kamarnya, ia baru saja selesai mengemasi bebrapa pakaiannya, bisa diduga bahwa ia akan disana untuk beberapa bulan ke depan.
‘Tidakkah ini berlebihan?’ gumamnya.
Tapi ia tak bisa melakukan apapun selain menuruti perintah ayahnya, ayah yang selalu mendidiknya secara otoriter, yang telah kehilangan sifat lembutnya kepada siapapun.
Yunho membuka ponselnya, jari-jarinya menyentuh layar itu. Ia mengirimkan sebuah pesan singkat kepada keempat sahabatnya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Keempat sahabatnya mengantar keberangkatan Yunho di bandara, mereka akan merasa sangat kehilangan. Terlebih lagi 2 minggu lagi mereka akan tampil di sebuah acara kampus.
“Kalian lakukan saja meski tanpa aku.” Tutur Yunho menebar senyumnya, meski di hatinya ia merasa belum sepenuhnya rela melepaskan kesempatan emasnya tampil di sebuah panggung bersama dengan keempat sahabatnya itu.
“Yah, bisakah kalian tak memasang wajah kecut itu?” protesnya, membuat suasana semenyenangkan mungkin.
“Hyung, kami akan merindukanmu.”
“Kau harus sering-sering menelpon kami.” Kata Jaejoong.
“Arrasseo.” Jawab Yunho tersenyum seraya menepuk bahu Jaejoong.
“Aku benci perpisahan.” Gumam Junsu mendesah.
“Ini bukan perpisahan, Junsu. Anggap saja aku sedang berlibur. Tak akan lama lagi kita akan bertemu lagi. Dan saat kalian sedang libur semester, bukankah kalian bisa datang ke Gwangju?!” Tantang Yunho merangkul Junsu.
“Semua ini gara-gara gadis bernama Sanghee itu.” Gertak Changmin.
“Anni, tak ada hubungannya dengan Sanghee.”
“Kalau kau mendengarkan kata-kataku, dan tak menanggapi ucapan gadis itu, tak akan seperti ini kejadiannya.” Sambung Yoochun.
“Hanya saja ucapan anak itu membuatku merasa tertantang.”
“Tertantang mendapatkan hukuman berlibur di Gwangju huh?” sindir Jaejoong menyilangkan tangannya di dada.
“Ya, bisa kau katakan seperti itu, Joongie~” gelak Yunho memeluk Jaejoong dengan erat tampak mereka memang pasangan gay.
“Aish..” umpat yang lainnya tercengang.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Tak bisakah kalian tak membicarakan itu lagi? Aku sudah muak mendengarnya.” Bentak Sanghee marah.
“Yaaa!! Bukankah kau yang mengatakannya pertama kali?” tuding seorang mahasiswa memprotes.
“Tapi.. yah! Itu tak benar! Uhm, maksudku yang kuucapkan saat itu tak benar!” suara Sanghee tampak seperti sebuah bisikan.
Sudah cukup ia terus diliputi perasaan bersalah, ia bukan orang yang tamak, ia bukan orang yang jahat.
“Sanghee-ah, ayo kita pulang.” pinta Kiseop menarik tangan Sanghee karena ia tak ingin Sanghee menerima cercaan itu berlarut-larut, ia tahu Sanghee sebenarnya rapuh, ia selalu merasa bersalah, dan ia bahkan tak memikirkan dirinya sendiri untuk meluruskan permasalahannya, dihina ataupun dikucilkan.
“Bukankah sudah kubilang kau jangan melakukannya sendiri, aku akan membantumu menghadap Tuan Jung.”
“Oppa, aku merasa tak berguna.”
“Siapa yang mengatakan hal itu huh?” Tanya Kiseop geram, memegang kedua bahu Sanghee dan menatapnya dalam-dalam, “apa gadis itu yang mengatakannya?”
 “Tak ada yang mengatakan hal itu.” Sanghee tertunduk diam, “Yunho-ssi tak mengatakan apapun saat aku meminta maaf padanya, aku yakin dia sangat membenciku, oppa.” Isak Sanghee.
“Yah, jangan menangis.” Tutur Kiseop meraih tubuh Sanghee ke dalam pelukannya, ia tak bisa tinggal diam, bagaimanapun juga ia harus melindunginya.
“Aku akan membuatnya memaafkanmu.”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Halmoni benar-benar membuatku gila. ARGH!” oceh Yunho menarik rambutnya frustasi. Sudah 1 pekan ia menjadi seperti seorang kuli angkat di rumah neneknya sendiri, padahal banyak pekerja disana. Tapi ia yakin jika ia tak mengikuti apa yang diperintahkan neneknya, ia akan segera berhadapan dengan ayahnya.
Ia angkat sebuah karung berisi bahan makanan ke dalam gudang penyimpanan. Badannya sudah terasa sakit semua, ia memang suka berolahraga, tapi semacam ini, ‘Ini tak akan menyehatkan tubuhku, tapi sama saja membunuhku secara perlahan. Lebih baik aku mengikuti wajib militer daripada seperti ini.’ Batinnya.
“Ya, Yunho-ah, bisakah kau mengambil beras untuk tetangga kita?” pinta neneknya.
“Tapi halmo..”
“Kau tahu bukan tetangga kita sudah tua, kasihan dia..” potong neneknya.
“Aish, baiklah.” Dengus Yunho, tulang-tulang badannya sudah terasa terlepas semua. Ia butuh istirahat, ia tak terbiasa melakukan semua ini setiap hari, bahkan di rumah ia tak pernah melakukan hal berat terkecuali mengangkat barble ataupun olahraga lainnya, tidak untuk menjadi seorang kuli angkat seperti ini.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Suasana universitas tempat Sanghee benar-benar tampak lengang, semuanya berjalan seperti biasanya, tak ada yang mencolok, semuanya seperti keadaan sebelum berita ‘gay’ itu beredar, tampak tenang. Tampaknya fitnah yang beredar itu sudah menyurut.
Dan sudah 2 minggu Sanghee tak pernah bertemu dengan Yunho, sedikit perasaan rindu terbesit di hatinya. Ia tak terbiasa tak melihat Yunho seharipun, seolah seperti seorang pemabuk yang kecanduan segelas bir. Pada kenyataannya ia tak mengetahui bahwa Yunho mengambil cuti kuliah dan berada di Gwangju sekarang.
Besar keingintahuannya pada Yunho, Sanghee sangat ingin bertanya pada teman-teman Yunho, tapi perasaan bersalah dan sedikit perasaan malu yang membuatnya mengurungkan niatnya untuk bertanya pada mereka.
“Permisi, Tuan. Bolehkah saya bertemu dengan Tuan Jung?” ijin Sanghee pada salah satu staff di kantor pemilik Unversitasnya.
“Apa kau sudah membuat janji dengannya?”
“Belum, saya hanya ingin menjelaskan sesuatu padanya. Kumohon..”
“Mianhada, tapi Tuan Jung tidak sedang disini sekarang, beliau sedang berada di luar kota, mungkin 3 hari ia akan kembali ke Seoul.” Terang staff tersebut seraya membenarkan letak kacamata yang menggantung di lehernya.
“Oh, baiklah. Kamsahamnida Tuan.” Kata Sanghee membungkuk dan melangkah lesu meninggalkan ruangan itu. Ia sangat ingin meluruskan permasalahan yang ia buat itu, mengingat ia mendengar isu bahwa semua dosen dan pemilik saham di universitas tersebut menganggap remehnya karena kasus Yunho menjadi seorang gay.
Sanghee berjalan gontai menysusuri koridor gedung universitasnya. Satu-satunya jalan yang bisa ia lakukan saat ini adalah menemui teman-teman Yunho. Tapi bagaimana mungkin? Salah satu teman Yunho adalah Jaejoong, orang yang semua orang anggap sebagai pasangan gay Yunho.
Ia benar-benar kacau dan kalut.
“Sanghee-ssi. Itukah kau?” terdengar suara seorang pria dari belakangnya, “Choi Sanghee?” ulangnya. Perlahan Sanghee membalikkan badannya, tepat seorang pria bernama Kim Jaejoong berdiri di depannya.
“Uhm, sunbaenim, ada apa?” Tanya Sanghee gemetar.
“Bisakah kita bicara sebentar?” pinta Jaejoong.
“Oh, ne~”
Raut muka Sanghee memucat, ia tak tahu harus mengatakan apa saat itu. Namun yang jelas nyatanya ia mengikuti apa yang diinginkan Jaejoong.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
      “Oppa, aku akan pergi ke Gwangju. “ pamit Sanghee pada Kiseop. Ia berencana untuk menemui Yunho disana setelah mendengar apa yang di ceritakan Jaejoong tentang apa yang terjadi pada Yunho.
“Apa? Kau kesana sendiri?” Tanya Kiseop terbelalak.
“Tidak, oppa. Aku bersama Jaejoong-ssi, Yoochun-ssi, Junsu-ssi dan Changmin-ssi.” Terang Sanghee berusaha tak membuatnya cemas.
“Aku akan ikut bersamamu.” Putus Kiseop, bagaimana bisa ia menegakan Sanghee menghadapi Yunho yang terkenal angkuh dan keras kepala itu seorang diri.
“Tak perlu, aku bisa sendiri, oppa.”
“Pikirkan Sanghee, mana mungkin orang tuamu membiarkanmu pergi ke Gwangju dengan orang-orang yang baru saja kau kenal? Kalau aku ikut denganmu, aku akan meyakinkan mereka.” Jelas Kiseop membuat alibi.
“Oh, baiklah.” Jawab Sanghee merasa apa yang dikatakan Kiseop memang benar.
‘Aku akan mengucapkannya secepatnya. Apapun jawabanmu.’ Batin Kiseop menatap Sanghee yang mulai memasuki pintu gerbang rumahnya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sanghee, Kiseop dan keempat sahabat Yunho sedang check in di bandara internasional Seoul, dimana mereka akan menuju Gwangju untuk berkunjung di rumah nenek Yunho.
Sesampainya disana mereka menaiki bus menuju kampong halaman Yunho, suasana asri tampak membentang luas sejauh mata mereka memandang. Dan bukan sebuah kesenangan terhadap ciptaan Tuhan tersebut, Sanghee mendesah, sebentar lagi ia akan bertemu dengan Yunho dan orangtua Yunho. Tapi bagaimanapun juga, berani ataupun tidak ia harus menghadapi semua ini. Namun tak hanya itu yang ada di pikirannya sekarang.
*Flashback*
Sebelum mereka berangkat ke bandara, Kiseop menjemput Sanghee, dan pada saat mereka berada di depan rumah Sanghee, Kiseop meminta waktu sejenak untuk mengatakan sesuatu padanya.
“Oppa, apa yang ingin kau katakan? Apa ada suatu masalah dengan rencanaku ke Gwangju?” Tanya Sanghee bingung.
“Tidak, hanya saja…” Kiseop terdiam, ‘Bahkan Yunho sudah mengisi pikiranmu.’ Batin Yunho.
“Sanghee….” Kata Kiseop memegang tangan Sanghee, sehingga membuat Sanghee merasa salah tingkah.
“Mungkin ini terdengar sangat mendadak bagimu, tapi ini terlalu lama untukmu memendam semua ini. Sanghee, aku tahu kau tak pernah melihatku sebagai seorang laki-laki, sebagai lawan jenismu, kau selalu menganggapku seperti kakakmu sendiri, dan kita sudah saling mengenal sejak kecil, kau tahu seperti apa aku, dan begitu pula denganku, aku tahu semuanya tentangmu. Tapi mungkin satu hal yang tidak kau tahu tentangku… bahwa sebenarnya aku…”
“Apa oppa?”
“Sanghee, aku selalu merasa kau tak pernah menyadari keberadaanku, meski kau berada di sampingku, tapi aku merasa pikiranmu tak berada denganmu. Sanghee-ah, aku menyukaimu, bukan rasa suka dalam hubungan adik dan kakak, tapi dalam hubungan pria wanita, aku mengerti maksudku bukan?”
Seperti sebuah kilat menyambar dengan cepat dan tepat di atas Sanghee, yang membuatnya hilang kesadaran dalam pikirannya.
Jika ia bisa berpura-pura tak mengerti apa yang dimaksud Kiseop, tapi terlambat, bahkan ia mampu mengerti kata-kata itu di dalam alam tak sadarnya.
*End of Flashback*
Sanghee menghela napas panjang, dan kini pria yang beberapa jam lalu mengungkapkan perasaannya padanya  tengah berjalan di sampingnya, perasaan bersalah dan canggung menyelimuti Sanghee. Tak bisakah ia hidup dengan tenang? tanpa beban?
‘Mianhada oppa, aku belum bisa menjawabnya sekarang. Aku harus menyelesaikan masalah ini terlebih dulu.’ Itulah kata-kata yang Sanghee ucapkan saat itu pada Kiseop.
Sejujurnya Kiseop mengetahui jawaban apa yang akan ia dapat, dan ia tahu Sanghee sedang dalam keadaan dilemma dan bimbang dengan perasaannya sendiri.
Aku tak  menyangka akan terasa sesulit ini.’ Batin Kiseop
Dari kejauhan tampak seorang pria bertubuh tegap dan maskulin itu tengah memanggul sekeranjang buah jeruk dengan lelahnya, dan pemandangan itu sangat membuat hati Sanghee sakit.
Namun raut muka yang letih itu mengendur dan berubah menjadi riang saat Yunho, pria itu, melihat sekelompok sahabatnya datang berkunjung.
“YAAA!!” teriaknya seketika menaruh keranjang itu sembarangan dan berlari menghampiri sahabat-sahabatnya.
Ia berikan pelukan pria pada masing-masing sahabatnya, ya, ia sangat merindukan keempat temannya itu, sudah hampir satu bulan mereka tak saling bertemu. Dan yang pasti Yunho sekarang bukanlah Yunho yang dulu, yang begitu angkuh, keras kepala dan serakah. Ia sangat berbeda dengan dulu.
“Akhirnya, kalian datang kemari..” celoteh Yunho memamerkan deretan giginya dengan lebar dan menyandarkan dagunya di bahu Jaejoong dari belakang.
“Kita merindukanmu, hyung.” Kata Junsu melengking, menampilkan aegyo-nya.
“Hyung, Sanghee-ssi dan Kiseop-ssi juga datang dengan kami.” Ungkap Yoochun melangkah ke samping, memperjelas pandangan pada 2 manusia yang mungkin tidak ingin ditemuinya sekarang ini.
Senyuman lebar yang tampak memancar dari bibir Yunho kini mulai meredup seketika melihat Sanghee dan Kiseop.
Di sisi lain, Sanghee pun enggan memperlihatkan wajahnya, sedari tadi ia terus menunduk tak bergeming.
“Sanghee-ssi.. Kiseop-ssi. Selamat datang di rumah kami.” Ucap Yunho getir, membunuh suasana yang begitu canggung di antara mereka semua.
“Annyeonghaseyo~” gumam Sanghee dan Kiseop.
“Baiklah, kenapa kau tak mempersilahkan kami masuk huh?” canda Jaejoong mengalungkan lengannya di bahu Yunho dan menariknya memasuki halaman rumah nenek Yunho.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Mereka bercengkrama di gazebo tradisional di belakang rumah, hidangan pun tersaji di meja di hadapan mereka.
Cengkramaan itu terkesan didominasi oleh Yunho dan keempat lainnya, sementara Sanghee dan Kiseop hanya terdiam mendengarkan pembicaraan mereka, entah apa, Sanghee tak paham karena angannya sudah melayang jauh tak tentu arah.
Yunho tampak sangat antusias menceritakan semua penderitaannya di rumah itu. Dan hal itu membuat perasaan bersalah pada Sanghee mencuat kembali. Secara tak langsung, itu semua adalah salahnya.
Jaejoong yang tengah mengupas apel merah dan tanpa yang lain sadari, ia menyuapkannya pada Yunho, dan dengan senang hati Yunho pun memakannya, Sanghee yang melihat adegan itu hanya tersenyum pahit, dan segera berpaling, mengambil napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan, berharap rasa sakit yang dirasakan dapat menghilang bersamaan napas yang ia hembuskan.
“Sanghee-ah, gwencahana?” Tanya  Kiseop khawatir melihat raut muka Sanghee yang sedari tadi tak berubah, muram.
Apakah karena ungkapan perasaanku?’ pikir Kiseop.
Jaejoong melihatnya dan melemparkan senyum pada Sanghee dengan tenang.
“Gwencahana, oppa.” Jawab Sanghee tersenyum.
“Yunnie~ lihatlah, ini acara Festival Musim Gugur di universitas kita.” Kata Jaejoong seraya mengeluarkan IPhonenya, mereka tengah asyik menonton video itu, dan Changmin, Yoochun, dan Junsu pun sudah terhanyut dengan obrolan mereka sendiri.
“Kalian tak ikut di acara ini?” Tanya Yunho kaget saat menyadari tak ada penampilan dari keempat sahabatnya, “bukankah kalian sudah berlatih?” tanyanya lagi tak sabar.
“Kami memang tak ikut tampil, kalau salah satu dari kita tak ikut, maka yang lain pun tak ikut. Bukan begitu?” papar Jaejoong pada Yunho tersenyum.
“Ye, Jae umma benar.” Seloroh Junsu, dan yang lain pun terkikik.
“Aigo, aku sangat terharu.” Balas Yunho menepuk rambut Jaejoong dengan lembut.
Semakin lama Sanghee semakin tak tahan melihat pemandangan-pemandangan itu. Ia mengajak Kiseop keluar, dan mereka pergi dengan alas an ingin mencari udara segar.. tengah malam…
“Oppa, mengenai ucapanmu tadi pagi.. aku… aku menerimamu, aku bersedia menjadi kekasihmu.”  Terang Sanghee, ia pun tak tahu apakah yang ia lakukan ini baik atau tidak.
Meski perasaan cintanya belum muncul pada Kiseop, namun ia ingin mencobanya, bukankah kau akan merasa bahagia jika kau selalu dibuat bahagia oleh orang yang mencintaimu?
Dan dengan begitulah, ia juga ingin melupakan perasaannya pada Yunho. Sia-sia jika ia menyukai orang yang tak menyukainya, jangankan menyukainya, bahkan Yunho bukanlah orang yang menyukai jenisnya. Yunho menyukai Jaejoong.
“Sanghee.. kau..” pungkas Kiseop semakin bingung dengan ulah Sanghee.
“Kau mengerti rencana kita bukan? Ini demi kebaikanmu dan kebaikan semuanya.” Sanghee masih sangat ingat apa yang ia bicarakan dengan Jaejoong di Seoul. Dan ia sekarang bersedia akan melakukan itu, untuk kebaikannya dan kebaikan semuanya, terutama kebaikan Yunho.
“Oppa, aku akan mencintaimu. Seiring berjalannya waktu, aku dapat mencintaimu, beri aku kepercayaan.” Kata Sanghee berjalan mendekati Kiseop dan memeluknya, membenamkan kepalanya di bahu Kiseop.
“Ne~” pikiran Kiseop pun melayang, jauh di lubuk hatinya ia sangat suka dengan usaha Sanghee, namun dia bukanlah orang yang tamak yang memaksakan kehendaknya. Ia tahu Sanghee sedang dalam keadaan gundah.
“Aku akan membuatmu bahagia.” sambung Kiseop mengelus rambut Sanghee, ‘Meski aku harus rela melepasmu dan melukai diriku sendiri.’ Lanjutnya dalam hati.

-To Be Continued-
March 15th, 2012
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Annyeong, mianhae nge-gaje lg dah ini chapter.. >
Semoga chingudeul suka yah.. mohon RCLnya.. ^^
Dan aku jg gak tau ini FF akan berakhir di chapter berapa, rencananya ending di chap 4 (it means next chapter) tp gak tau dah,, author jg bingung nyusun plotnya.. #plak ^^V
Mohon dukungannya yah.. tanpa kalian yg slalu ngasih support aku, aku jg bkn siapa2.. ^^

[FF] I Hate Loving You - Chapter 2

 

Author: Yessyka WIdy
Requested by: SucciAssri Hyera Orchyd Wullanddarri

Casts:
-          Choi Sanghee
-          Jung Yunho
-          Lee Kiseop
-          Kim Jaejoong

------------------------------------------------------------
Chapter 2
*Review of Chapter 1*
“Kau pikir aku akan melakukan sesuatu? Tapi bagaimana kau bisa tampak takut jika kau berpikir aku tertarik pada pria? Seharusnya kau tak takut, Choi Sanghee. Bukankah aku gay?!” Yunho dengan wajah nakalnya menebah kemejanya dan melangkah pergi, meninggalkan Sanghee dalam keadaan yang tak dapat dibaca.
*End of Review*
~~~~~~
Sanghee masih berdiri mematung di ruangan tua itu. Ia tak habis pikir dengan perkataan Yunho baru saja. Ia tertegun menatap Yunho yang semakin menjauh dan tak tampak lagi.
Apakah Yunho sedang menantangnya? Atau memang benarkah Yunho gay?
Yunho berjalan menuju sebuah meja di kantin gedung fakultasnya, tampak pria bernama Kim Jaejoong itu sedang meneguk segelas jus buah.
“Ya, Jaejoong~!” seloroh Yunho seraya duduk di bangku depan Jaejoong.
“Ya. Kau ini lama sekali.”
“Mianhae, aku harus menyelesaikan sesuatu terlebih dulu.”
“Apa? Gadis itu?” Tanya Jaejoong sembari mengaduk jusnya.
Yunho hanya menyunggingkan bibirnya, menyeringai, “Ya! Kau harus membantuku.”
“Apa?”
“Berpura-puralah menjadi pasanganku.”
“YA!! KAU GILA??” pekik Jaejoong seketika berdiri tak percaya dengan apa yang dikatakan orang yang sedang duduk santai di depannya itu.
“Aish, jangan keras-keras.” Bisik Yunho melekatkan jari telunjuknya di bibir.
“Kau kira aku gay huh?”
“Kau gay?”
“Sesange.. apapun alasanmu aku tak mau melakukannya. Aku masih pria normal, Yunho. Aku mencintai wanita. Dan bukan pria.” Tolak Jaejoong.
“Jebal, Joongie~“
“Kau melakukannya karena gadis itu?”
“Entahlah, hanya saja aku suka bermain-main dengannya.”
“Bermain dengan cara mengiyakan fitnahnya? Kau gila?”
“Entahlah, aku suka melihat ekspresinya saat aku menggodanya dengan sikap ‘gay’ku.”
“Kau menyukainya?” terka Jaejoong.
“Menyukainya? Kau gila?” pekik Yunho menangkis dugaan Jaejoong yang menurutnya tak masuk akal.
“Bukan aku yang gila, tapi kau.”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sanghee duduk di sebuah bangku di taman gedung fakultasnya. Ia tampak sibuk membersihkan lensa kameranya. Bahkan ia tak tahu kalau sudah 2 menit seorang pria duduk disampingnya.
“Ya! Kau mengabaikanku?” protes Kiseop. Ia tak habis pikir temannya ini tak menyadari keberadaannya.
“Oh, oppa!” tegur Sanghee setelah menoleh kesampingnya, “Aku tak tahu kau ada disini.” Kikiknya.
“Aish, kau terhanyut  dengan kameramu atau terhanyut dengan lamunanmu?”
“Anni, aku sedang membersihkan kameraku.” Jawab Sanghee menunjukkan kameranya seraya memperlihatkan deretan giginya.
“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, Sanghee-ah.”
“Aku tak sedang melamun, oppa.” Sergah Sanghee memalingkan wajahnya.
“Hanya dengan melihat matamu, aku sudah tahu. Apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Kiseop, ia memang sangat mengerti Sanghee. Dan ia memang sangat ingin Sanghee menganggapnya menjadi orang yang dapat dipercaya, “Yunho-ssi?”
Satu nama itu membuat Sanghee mendongak, ia hanya memberikan tatapan menerawang pada Kiseop. Tanpa ia katakan pun, orang yang ada di depannya sudah mengetahuinya.
“Kau ingin mengakhirinya?”
“Aku tak tahu, oppa. Aku merasa bersalah padanya. Aku tak tahu harus mengatakan apa” jawab Sanghee menunduk.
“Seharusnya sebelum semua ini terjadi kau harus memikirkannya dulu, Sanghee. Kabar ini sudah sampai ke telinga para dosen, dan kita bisa menduga tak akan lama lagi ayah Yunho-ssi pun akan segera mengetahuinya.”
Sanghee hanya terdiam.
“Kita tahu bahwa sifat ayah Yunho-ssi tak jauh beda dengan Yunho. Kaku, keras kepala. Mungkin saja ia akan menghukum anaknya, lebih parahnya lagi kau juga akan terseret ke dalam masalah itu.” Lanjut Kiseop. Ia tak bermaksud serba tahu, ataupun menggurui Sanghee, namun ia ingin Sanghee dapat mengenali dirinya sendiri, karena Sanghee yang ia hadapi sekarang bukan Sanghee yang ia kenal.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Diamlah.” Bisik Yunho seraya mengalungkan tangannya di bahu Jaejoong yang tampak merasa tak nyaman dengan ‘sikap’ Yunho.
“Aish..” gumam Jaejoong saat menyadari ada Sanghee yang berjalan melewati mereka.
Beberapa mahasiswi yang juga melintasi mereka kini tampak sangat terkejut dengan ‘sepasang kekasih’ ini. Bagaimana tidak, 2 ‘kingka’ di universitasnya ini menunjukkan gerakan yang tak normal.
Sanghee hanya terdiam, ia tak berani mengangkat wajahnya hanya untuk melirik Yunho dan Jaejoong yang tengah asyik dengan dunia mereka sendiri.
“Kau membuatku gila, Jung Yunho.” Pekik Jaejoong menampik tangan yang sedari tadi mendarat di bahunya.
“Apa hanya karena dia kau melakukan ini? Kau tak memikirkan pendapat orang lain huh? Bagaimana kalau ayahmu mengetahui hal ini? Bukan hanya kau yang akan dapat masalah besar, tapi aku juga. Kau ingin ayahmu melempar tasmu dan mengusirmu dari rumah huh?” celoteh Jaejoong memborbardir Yunho dengan runtutan nasehatnya.
“Aish, kau seperti perempuan saja. Banyak bicara.”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“JUNG YUNHO, KAU BENAR-BENAR MEMBUAT APPA KECEWA!” bentak ayah Yunho, sebenarnya ia memang tak sepenuhnya mempercayai semua itu. Namun bukti yang membuatnya berpikir bahwa anaknya bias saja memang seperti itu.
“APA KAU MEMANG BERBEDA DENGAN LAINNYA? KAU MENYUKAI PRIA? HUH?” Yunho hanya menunduk diam, ia tak berani menjawab, kalaupun ia benar dan menjawab semuanya akan sia-sia, ayahnya akan tetap menghukumnya.
“AYO, JAWAB APPA!” teriak ayahnya menarik dasi yang mengikat lehernya.
“Mianhada, appa.” Jawab Yunho menghela napas. Ia sangat ingin menjelaskan bahwa semua itu fitnah, namun melihat keadaan ayahnya yang sudah naik darah, tak mungkin baginya menjelaskan itu karena pada akhirnya siapapun yang salah, ia akan mendapat hukuman.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sudah beberapa hari Sanghee merasakan ada yang kurang, entah apa, perasaan itu membuatnya bingung. Terkadang ia pun mencari seseorang yang entah iapun tak tahu.
“Kenapa sedari tadi kau mondar-mandir saja?” Tanya Kiseop yang sudah merasa jengah melihat Sanghee berjalan kesana kemari di hadapannya.
“Aku juga tak tahu, oppa. Perasaanku sering tak enak.” Jawab Sanghee menghel napas, dan akhirnya mendaratkan pantatnya di kursi samping Kiseop.
“Apa yang membuatmu merasa tak enak? Apa kau sedang memikirkan sesuatu? Kau tampak gelisah, Sanghee.” Ungkap Kiseop mengamati raut muka Sanghee.
Sanghee menarik napas panjang, ‘Apa yang sedang kupikirkan?’ batinnya. Bahkan ia sendiri tak mengetahui apa yang sedang ia pikirkan, dan apa yang telah membuatnya gelisah.
“Kau seperti kehilangan jiwamu, Sanghee. Diam dan pikirkan baik-baik, kau harus mengenali dirimu sendiri, kau harus dapat mengendalikan dirimu sendiri. Aku merasa kehilangan Sanghee yang dulu yang selalu tertawa riang di hadapan semua orang. Sekarang kau berbeda, awalnya aku yakin aku mengenalimu, tapi sekarang aku seolah sedang berhadapan dengan orang asing.” Ulas Kiseop mengungkapkan semua yang ia rasakan, ia sangat peduli pada Sanghee. Ia tak ingin Sanghee hilang dalam kebimbangannya sendiri.
Seketika mereka terdiam, terhanyut dalam angan-angan mereka masing-masing. Jauh dari sepengetahuan Sanghee, di balik semua sikap peduli Kiseop pada Sanghee, Kiseop tak menganggapnya hanya sebagai seorang adik, ia mencurahkan semua perhatiannya pada Sanghee dalam hubungan antara wanita dan pria, ia ingin Sanghee tahu bahwa ada seorang pria yang sangat peduli padanya. Namun keberanian untuk memperlihatkannya terhalang oleh rasa takutnya jikalau Sanghee mengetahui semua itu, ia akan menjaga jarak dengannya, karena Kiseop tahu bahwa Sanghee tak memiliki perasaan yang sama padanya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Jaejoong berdiri menyandarkan tubuhnya di sebuah pilar di dekat ruang latihannya, ia ingin melakukan sesuatu, ia memang tak berniat mencampuri urusan orang lain, namun ia sangat ingin membantu temannya.
“Hyung, apa yang sedang kau lakukan?” Tanya pria bertubuh jangkung seraya menepuk bahunya.
“Oh, anni Changminnie~”
“Ayo kita berlatih, satu bulan lagi kita akan tampil di acara kampus.” Ajak Yoochun menarik Jajeoong ke dalam.
“Sayang Yunho hyung masih belum bisa berlatih dengan kita.” Gerutu Junsu mengerucutkan bibirnya.
“Sudahlah, tak akan lama ia menerima hukuman itu.” Jawab Jaejoong membuat suasana yang cerah, meski pikirannya sedang tak disana.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Di sebuah rumah mewah di Cheongdam-dong, seorang pria tampak sedang malas melakukan segala hal, kamarnya yang berantakan dengan pakaian, remah-remah makanan ringan dan tampak begitu tersebar memenuhi ruangan kamar itu, ia merebahkan tubuhnya di ranjang nyaman itu sambil menyematkan earphone dan mendengarkan lagu dari IPodnya.
Sebuah hukuman yang mungkin masih bisa dikatakan hukuman indah kini sedang Yunho terima, untuk 2 minggu ayahnya melarangnya keluar dari rumah. Ayahnya masih sangat malu dengan kelakuan anaknya itu, sementara ayahnya sedang berusaha membuat semua orang di universitas tempat ia menanamkan saham tetap menghormatinya meski hal itu diragukan sekarang, mengingatkan tingkah anaknya yang dianggap ‘tidak normal’.
Perlahan-lahan, tanpa sepengetahuan orang tua dan pembantu di rumahnya, Yunho berjalan mengendap-endap keluar, berusaha kabur, mencari udara segar di luar sana. Ia bukan anak yang bisa diam di dalam rumah tanpa melakukan apa yang ia inginkan dengan bebas.
Tak lupa ia memakai hoodie dan topinya, mengantisipasi kemungkinan terangkap basah oleh keluarganya. Ia berjalan santai di tepian jalan mengamati hiruk pikuk penduduk yang sedang lalu lalang dengan aktivitas mereka masing-masing.
Dan dari arah yang berlawanan tampak seorang gadis menggunakan jaket bulu dan syal yang melingkar erat di lehernya, serta penutup telinga yang tampak hangat  menempel di kepalanya.
Sanghee yang sedari tadi tak memperhatikan jalan, menabrak Yunho, yang sebenarnya memang Yunho sengaja berjalan tepat ke arah Sanghee.
“Mianhamnida.” Ucap Sanghee membungkuk tanpa melihat terlebih dulu siapa yang ia tabrak, “Oh, Jung Yunho.” Gumamnya saat tatapan tertabrak pada tatapan tajam yang tak asing baginya.
Yunho hanya terdiam, mengamati gerak Sanghee, sejujurnya ia sedang mengamati wajah yang ia rindukan.
“Uhm Yunho-ssi. Bisa kita bicara berdua?” pinta Sanghee.
“Bicara saja.” Jawab Yunho dingin, namun perlahan menghangat saat melihat wajah cemas itu, di dalam hatinya ia sangat ingin memeluk gadis di depannya itu.
“Uhm.. bisa kita berbicara disana?” ajak Sanghee, namun ia tak mendapat jawaban apapun dari Yunho, yang membuatnya tak nyaman dengan atmosfer itu, “aku hanya ingin duduk saja, dan kita berbicara dengan nyaman.”
“Baiklah.” Yunho berjalan di belakang gadis bertubuh mungil itu, ia amati punggung Sanghee, perlahan ia menyadari bahwa ia memang merasakan perasaan yang aneh di dalam dirinya. Namun ia pendam hal itu dalam-dalam, karena ia tak ingin mengetahuinya semakin jauh lagi.
Mereka duduk terdiam di dalam kedai makanan di pinggir jalan itu, entah apa yang ada di dalam pikiran mereka. Baik Yunho maupun Sanghee bingung untuk memulai pembicaraan.
“Uhm, Yunho-ssi, mianhada. Aku.. sebenarnya aku tak berniat untuk mengatakan hal itu. Aku benar-benar minta maaf. Aku merasa sangat bersalah. Aku tak menyangka kalau perkataanku itu membuat semua mahasiswa percaya. Aku… minta maaf.. maukah kau memaafkanku?” terang Sanghee menunduk, tak berani menatap mata Yunho.
Yunho masih terdiam, angannya masih melayang. Bahkan ia tak pernah berpikir Sanghee akan meminta maaf padanya. Ia tak berpikir sejauh ini. Bahkan di hatinya ia tak merasa Sanghee melakukan kesalahan besar. Ia juga tak merasa terusik dengan pikiran mahasiswa-mahasiswa di universitasnya, ia juga tak merasa bersalah pada orangtuanya.
“Yunho-ssi, mianhada..”
“YA, JUNG YUNHO!!! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?” Teriak seorang pria paruh baya yang baru saja masuk di kedai kecil itu.
Pandangan Sanghee dan Yunho pun saling bertabrakan setelah menatap pria paruh baya itu.
“Aish, appa.” Gumam Yunho, dan tanpa pikir panjang ia langsung menarik tangan Sanghee dan beralari keluar, meninggalkan ayahnya yang sudah naik pitam itu.
“Yunho-ssi, kenapa kau mengajakku berlari? Bukankah beliau ayahmu?” Tanya Sanghee terengah-engah mengikuti langkah Yunho yang lebih panjang darinya.
“Sudahlah, kita harus menghindarinya.” Jawab Yunho sekenanya, ia terus berlari tak tentu arah, kalau sampai ayahnya menangkapnya, hukuman pun akan semakin berat ia terima.
Entah apa yang membuat Sanghee terus berlari dengannya tanpa protes ia mengikutinya, sebuah senyuman terlukis di wajahnya.
Baru kali ini ia merasa jantungnya semakin terpacu kencang, aliran darahnya pun terasa memanas. Langkah larinya pun semakin kencang tanpa merasa lelah, dan meski salju tengah turun perlahan, menciptakan cuaca yang begitu dingin, ia merasa tangan kanannya semakin menghangat, terasa nyaman dalam genggaman tangan pria itu.

-To Be Continued-
March 10th, 2012
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Annyeong.. mianhada.. I’m a bad author,, telat banget ngupdate FFnya.. bener-bener gak ada ide nulisnya, ini mungkin terkesan gaje yah. .>< dimohon RCL nya.. ^^ semoga Suci saeng dan my beloved readers gak kecewa.. huhu~
dan maaf aku hanya  ngetag buat nae chingudeul yg udah RCL di chappie sebelumnya.. ^^

 ·  

[FF] I Hate Loving You - Chapter 1




Author: Yessyka WIdy
Requested by: SucciAssri Hyera Orchyd Wullanddarri

Casts:
-          Choi Sanghee
-          Jung Yunho
-          Lee Kiseop
-          Kim Jaejoong

------------------------------------------------------------


Chapter 1

        Suasana tenang menyelimuti atmosfer langit di salah satu universitas terkemuka di Seoul. semua mahasiswa memiliki kesibukan masing-masing, aroma persaingan pun semakin menusuk. Menjadi yang sangat baik dan yang terbaik.
        Seorang mahasiswa fakultas fotografi sedang hanyut dalam sebuah buku tebal seraya mengulum lollipopnya. Ia tengah serius mengerjakan salah satu tugasnya. Ia ketuk-ketukkan ujung pensilnya ke meja, mengisyaratkan bahwa ia sedang bingung.
“Seharusnya Kiseop oppa membantuku mengerjakan ini.” gerutunya mengacak-acak rambutnya. Ia memang sangat lemah dalam pelajaran teori fotografi, “ pelajaran ini tak perlu teori, tapi praktek.” Sergah seseorang seraya duduk di bangku samping Sanghee.
“Oh, oppa.” Ia memang pandai menangkap berbagai angle foto langsung melalui kameranya, namun ia lemah dalam teori tersebut. Sungguh aneh memang.
Kiseop adalah sahabat Sanghee sejak kecil, Ia sangat mengenal seperti apa Sanghee. Dan Sanghee sangat mempercayai semua hal padanya. Dan hubungan mereka pun sudah seperti hubungan kakak dan adik.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
        Seorang mahasiswa music tingkat atas bernama Jung Yunho tengah mengawasi gerak seorang juniornya, sorotan tajam matanya menggambarkan keseriusannya, tak ada yang berani macam-macam dengannya. Anak dari pemberi saham terbanyak di universitas tersebut.
“Yah, kau tak bisa melakukannya dengan baik huh?” pekiknya.  Ia memang buka tipikal orang yang memiliki batas kesabaran besar.
“Mianhamnida, sunbaenim. Aku akan mengulanginya lagi.” Pinta junior itu .
“Memang seharusnya seperti itu.”
“Lihatlah, dia begitu tampan.”
“Gerakan hip hopnya pun memukau.”
“Andai Yunho oppa menjadi kekasihku.”
Bisikan-bisikan seperti itu sudah tak asing lagi. Semua perkataan itu tertuju pada Yunho. Pria bertubuh tinggi tegap dan maskulin itu. Namun ia bukan lelaki yang ramah pada semua orang, ia terkesan memasang topeng keangkuhan di mukanya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sanghee berjalan menapaki rimbunan semak di belakang universistasnya. Seperti biasa, ia menuju sebuah gudang tua tak terpakai yang selalu ia gunakan untuk merenung, ataupun mencari sebuah ketenangan, menghindari keramaian hatinya.
Ia pegang gagang pintu yang mulai rapuh dimakan waktu itu. Ia terhenyak, menyadari bahwa ada sedikit perubahan di dalam ruangan itu setelah 1 bulan ia tak menjamahnya.
Terpadat banyak jejak sepatu tak beraturan, dan debu di atas meja yang ia yakini seharusnya menebal, kini menipis, bukan menipis karena dibersihkan dengan sengaja, namun bersih karena tersapu oleh suatu benda yang sengaja pernah diletakkan di atasnya.
“Siapa ini?” gumamnya, sangat jelas tempat ini tak hanya ia yang mengunjungi, namun ada orang lain.
Ia berusaha tak mempedulikannya, untuk apa ia pedulikan jika ruangan ini memang bukan ruangannya, tapi ruangan umum yang tak pernah dipakai lagi.
Ketika ia sedang menyunting beberapa foto hasil tangkapannya, ponselnya pun berbunyi.
“Benarkah? Sekarang?”
“Ne, arasseo oppa. Aku akan segera kesana.”
Ia tutup IPadnya, dan segera bergegas menuju sebuah ruang latihan. Ruang berukuran 10x10 meter itu tampak lengah. Hanya ada 5 pria yang sedang duduk di berbagai sudut ruangan mengusap peluhnya.
“Ah, Sanghee, kau sudah datang.” Lontar Kiseop yang tengah mengalungkan tali kamera di lehernya seraya memasuki ruangan itu, “Annyeonghaseyo, sunbaenim.” Salamnya sedikit membungkuk dan spontan membuat Sanghee ikut member hormat kepada 5 orang yang sebenarnya ia tak tahu siapa.
“Apa kau Lee Kiseop, mahasiswa fotografi yang akan mengambil beberapa foto kami?” Tanya seorang pria berwajah tampan seperti malaikat itu.
“Ne,subaenim. Aku Lee Kiseop, dan ini temanku Choi Sanghee.”
“Kau dan temanmu bisa mengambil foto kami berapapun.”
Suara hentakan music pun terdengar menggaung di ruangan itu. Kelima pria itu tampak terhanyut dalam alunan music yang mengiringi gerakan tubuh mereka. Sementara Sanghee dan Kiseop tengah serius mengambil foto mereka, cukup sulit untuk mengambil angle yang tepat mengingat objeknya adalah manusia yang sedang menari.
‘Bahkan kau masih sama, kau masih tampak angkuh.’ Batin Sanghee dengan hati yang mulai membeku, ia terbuai dalam lamunannya sendiri, hal yang harus ia lakukan pun sedikit hilang dari ingatannya, ia terus mengamati setiap gerakan pria angkuh bernama Jung Yunho itu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Sial.” Umpat Yunho memijat lengan kanannya, “bisakah kau menggunakan matamu saat kau berjalan?” pekiknya meninggi.
“”Mianhamnida, Yunho-ssi.” Jawab Sanghee, ia memang tak sengaja menabrak Yunho, bukan, sebenarnya ia memang sengaja menabrak Yunho. Ia sudah sangat muak dengan pria itu.
“Apa hanya dengan kata maaf dapat menyelesaikan semuanya? Hah? Lalu apa guna kantor polisi jika semua penjahat mengatakan maaf setelah mereka melakukan kejahatan. Bodoh!”
Sanghee menahan amarahnya, ia eratkan giginya kuat-kuat. Menahan semua umpatan yang sebenarnya ingin ia lontarkan pada pria itu.
        Tanpa menghiraukan suara Yunho yang memekik tajam itu, ia bergegas melangkahkan kakinya menjauhi pria itu. Jika tidak, mungkin pukulan berat akan mendarat mulus di wajahnya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
        “KAU GAY!” Tanpa diperintah oleh siapapun, tanpa di duga 2 kata itu tiba-tiba tergelincir jatuh dari mulut Sanghee. Seolah menyulut sebuah api dengan ribuan botol bensin.
“MENJIJIKKAN! LIHAT SAJA MUKAMU, SIKAPMU TAK JAUH BEDA SEPERTI MANUSIA TAK BERMORAL.”
Kata-kata hina itupun terus muncul darinya, ia tak peduli apa yang telah ia lakukan, karena ia sudah puas, dan sangat puas dengan semua ini. Ia puas dapat mengeluarkan semua amarahnya selama ini.
        Semua mata pun tertuju pada dua manusia yang tengah berhadapan itu, Sanghee dan Yunho. Sorot mata panas membara tampak dari sudut penglihatan Sanghee. Dan sementara Yunho.. ia tampak tenang, ataukah ia sedang sangat terkejut sekarang hingga ia tak tahu harus mengatakan apa.
Perlahan Yunho menyunggingkan bibirnya sebelah. Menampakkan sebuah keacuhannya.
“Lalu?”
Sanghee mengernyitkan dahinya. Bukan ini yang ia inginkan, ia ingin membuat Yunho marah, dan kenapa Yunho lebih tampak tertantang?
Gunjingan-gunjingan penuh keingintahuan pun semakin tersebar di seluruh sudut universitas itu. Bagaimana tidak? Yunho adalah seorang anak dari orang yang berpengaruh di tempat itu. Dan ini bukan rahasia yang  benar-benar rahasia lagi, karena ini merupakan sebuah rahasia umum bagi semuanya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
        Sanghee meremas sudut bajunya, perasaannya pun panik, seolah ia tak tahu harus berbuat apa. Bukankah ini yang ia ingin lakukan selama ini? Membalas dendam atas apa yang telah Yunho lakukan?
“Sanghee-ah, apa yang telah kau lakukan hah? Apakah kau tak sadar bahwa kau sudah membuat sebuah masalah?” Kiseop menggoyang kedua lengan Sanghee. Ia masih tak percaya bahwa Sanghee sudah mengatakan hal itu. 2 kata yang dapat membuat sebuah masalah besar untuknya.
“Apa? Itu memang benar oppa. Dia gay. Aku sering melihatnya berduaan dengan pria bernama Kim Jaejoong itu. Kau tahu, bahwa aku sering memergoki mereka saling memandang, dan tak jarang mereka saling menyentuh.” Bela Sanghee.
Demi Tuhan, ia tak tahu bagaimana ia dapat mengatakan semua itu dengan lantangnya. Ia memang pernah melihat Yunho dan Jaejoong berdua, tapi bahkan ia sendiripun tak dapat meyakini bahwa Yunho gay.
“Sanghee. Bangunlah. Bukan begini caranya. Hal ini akan menyakitimu nanti. Percayalah padaku, hentikan semua ini, sebelum semuanya terlambat.”
Bagaimana Sanghee bisa menghentikan hal yang baru saja ia mulai?
Ia teguh pada pendiriannya. Ia akan balas dendam. Bagaimanapun caranya ia akan membuat Yunho menderita. Batin ataupun raganya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Hyung, bagaimana kau tampak tenang menghadapi ini? Ini fitnah bukan?” Tanya pria bernama Changmin itu.
“Apa aku tampak tenang, Changmin?”
Changmin menjawabnya dengan anggukan beruntun seperti anak kecil.
Yunho tetap dengan apa yang ia miliki, ia tetap melakukan aktivitasnya seolah tak terjadi masalah apapun padanya. Bahkan ia juga tak berusaha membantah fitnah gadis itu.
“Hyung, apa kau mengenal gadis bernama Choi Sanghee itu? Tampaknya ia sangat membencimu.” komplain Junsu mengerutkan dahinya.
“Aku tak mengenalnya dekat, tapi aku tahu siapa dia.” Jawab Yunho, pandangannya pun menerawang jauh membuka semua kenangan masa lalunya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Dari kejauhan tampak sosok gadis mungil bernama Sanghee itu menyelinap masuk ke dalam gudang tua tak terpakai itu. Dugaannya pun semakin kuat bahwa ada orang lain selain dia yang singgah di tempat itu juga. Apa boleh buat, tempat itu bukan tempat rahasianya lagi.
“Jaejoongie, tapi aku.. aish, baiklah, aku akan ke sana sekarang.”
Sanghee mendengar ucapan itu dari luar, ia mengintip dari sisi jendela gudang itu, tampak sesosok pria tengah melewati gudang itu dan bergegas pergi, Jung Yunho.
‘Apakah kau benar-benar gay?’ gumamnya menundukkan wajahnya, mengamati lipatan roknya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sebuah klise, saat Sanghee melintasi sebuah ruangan latihan untuk menari itu ia lagi-lagi melihat Yunho di sana, dengan sorang pria berambut pirang itu. Meski ia tak dapat melihat wajahnya, tapi ia tahu betul siapa pemilik rambut pirang itu adalah Kim Jaejoong. Dua pria itu tampak asyik bercengkrama, bahkan sesekali Yunho melingkarkan tangannya ke bahu Jaejoong, dan mereka tertawa bahagia. Benarkah bahagia? Bahagia yang dikira oleh Sanghee.
Sebuah keingintahuan yang membesar yang tak dapat Sanghee bendung, membuatnya semakin lama menguntit mereka. Sudah setengah jam ia berdiri di depan ruangan itu, meski ia tak tahu apa yang sedang mereka lakukan.
“Jadi benar bahwa Yunho oppa gay?”
“Seperti yang kita lihat, sebenarnya aku tak ingin mempercayai ini, tapi kita sudah melihatnya.”
“Bahkan aku tak habis pikir teman kencannya adalah Jaejoong oppa.”
“Haruskah kita mempercayai semua ini?”
Tanpa Sanghee sadari, ada 4 mahasiswi yang juga melakukan hal yang sama sepertinya, mereka sangat mengagumi Yunho, atau entahlah mungkin juga mengagumi Jaejoong.
Sanghee terdiam, mencerna kata-kata itu.
Ia memang orang yang menyebarkan fitnah itu, fitnah yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya jika ternyata memang mungkin benar adanya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
                Sejak 2 kata itu terlontar dari mulut Sanghee, ia memang tak pernah berbicara lagi dengan Yunho, ya memang ia sebelumnya tak pernah bericara dengannya, di universitas ini.
“Apa kau yang sering kemari?” Tanya seseorang memasuki ruangan tua itu, sebuah gudang yang biasa Sanghee singgahi. Dengan tatapan terkejut, Sanghee hanya terdiam memandang sosok pria mengenakan kaos dibalut kemeja kotak dan celana jeans yang melekat pas ditubuhnya berdiri di ambang pintu gudang itu.
“Pantas saja, aku pernah menemukan sebuah foto kami berlima berlatih disini, siapa lagi kalau bukan kau pemiliknya.” Terka Yunho tertawa puas. 
Dan Sanghee hanya terkesiap menyadari bahwa Yunho lah yang pernah ‘menjamah’ ruangan itu selain dia.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Sanghee dingin, menjadi dingin.
“Aku rasa mulai sekarang kita harus berbagi ruangan ini.” Jawab Yunho sekenanya, menyandarkan tubuh tegapnya di pintu gudang itu.
Kata-kata Yunho entah bagaimana membuat hati Sanghee miris, mendingin, dan sedikit tersayat, ya tersayat, seolah melukai hatinya dengan ucapan-ucapan Yunho yang kasar dan sengaja untuk menyindirnya. Tapi bukankah Sanghee pantas menerimanya? Ia sepenuhnya bersalah atas fitnah yang pernah ia sebar.
“Pakai saja ruangan ini, aku tak memerlukannya lagi.” Sergah Sanghee berdiri dan hendak melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, hingga sebuah tangan kokoh mendorongnya dan membuat tubuhnya terhempas ke pintu itu, Sanghee terperangkap di tengah kedua tangan Yunho yang menyangga di daun pintu itu.
Mata tajam Yunho menabrak pandangan mata Sanghee yang mulai tampak kilau kegelisahan, bagaimana tidak? Mata itu seolah menusuk ulu hatinya dengan tajam. Nafas Yunho pun terasa menghembus di wajahnya.
Sedikit perasaan takut akan perlakuan Yunho untuk balas dendam padanya, dan juga perasaan takut menyadari bahwa ia sedang dengan seorang pria di ruangan itu dengan posisi yang tak membuatnya nyaman.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Sanghee lirih, terdengar seperti sebuah bisikan di telinganya.
“Kenapa?” Tanya Yunho menyunggingkan sebelah bibirnya. Ia amati Sanghee yang tampak tak berani menatap Yunho, “Kau takut jika aku akan melakukan sesuatu?”
Sanghee terkejut dan tanpa sadar ia semakin mencengkeram sudut cardigannya, menyembunyikan segala ketakutannya.
Semburat tawa kecil dari bibir Yunho, “Kau pikir aku akan melakukan sesuatu? Tapi bagaimana kau bisa tampak takut jika kau berpikir aku tertarik pada pria? Seharusnya kau tak takut, Choi Sanghee.Bukankah aku gay?!” Yunho dengan wajah nakalnya menebah kemejanya dan melangkah pergi, meninggalkan Sanghee dalam keadaan yang tak dapat dibaca.

-To Be Continued-
March 2nd, 2012
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Annyeonghaseyo, I’m here again.. maaf ya saya muncul lagi di notifikasi kalian. Bagi2 yg aku tag ataupun gak sengaja mampir di note ini, dan RCL yah.. ^^
Dan buat Suci saeng, here your request.. hehe~ moga gak mengecewakan yak.. ditunggu saja chappie2 berikutnya.. keke~
LOVE YA ALL..

 
Share

TVXQ in Fanfiction © 2012 | Template By Jasriman Sukri